Saturday, December 27, 2014

Metode Nasihat dalam Islam

Metode Nasihat dalam Islam - Pada postingan kali ini, blog pembelajaran akan share mengenai metode nasihat dalam Islam. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa dalam al-Quran banyak terdapat isyarat-isyarat mengenai metode nasihat. Berikut uraiannya.

Isyarat metode ini terlihat dalam tiga ayat Al-Quran berikut ini:
  • Pertama, QS Al-Dzariat: 55, Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.
  • Kedua, QS Ali Imran: 138 (Al-Quran) Ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
  • Ketiga, QS Al-Nahl: 125: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik, sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Menurut Al-Thabari (1978: 131), maksud kata al-Hikmah adalah wahyu Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Fungsi wahyu tersebut untuk menyerukan manusia ke jalan Tuhannya, yakni kepada syariat Islam. Al-Zamakhsyari dalam Al-Kassyaf (h. 644) menafsirkan al-hikmah dengan ucapan yang bijak dan benar, disertai dalil yang jelas dan dapat menghilangkan keraguan. Mau'idzah hasanah adalah memberikan pengertian yang bermanfaat bagi mereka. Sedangkan mujâdalah, berdebat atau berdiskusi dengan cara yang lemah lembut tanpa berkata keji dan melakukan kekerasan.

Contoh Metode Nasihat dalam Al-Quran

Beberapa contoh metode nasihat dalam Al-Quran adalah QS Lukman: 13,
"Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar";
Nasihat para nabi pada umatnya dan nasihat para nabi pada anak-anak mereka, seperti nabi Nuh, dan Ya'kub pada anak-anaknya.

Menurut Al-Ajami (2006: 139-142), ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para pendidik, orang tua, dan para dai  dalam memberikan nasihat:
  • Memberi nasihat dengan perasaan cinta dan kelembutan. Nasihat orang- orang yang penuh kelembutan dan kasih sayang mudah diterima dan mampu merubah kehidupan manusia.
  • Menggunakan gaya bahasa yang halus dan baik. QS Ali Imran: 159,
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”
  • Meninggalkan gaya bahasa yang kasar dan tidak baik, karena akan mengakibatkan penolakan dan menyakiti perasaan. Metode para nabi dalam dakwah adalah kasih sayang dan kelembutan. QS Al-A'raf: 59,
"Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), Aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)."
  • Pemberi nasihat harus menyesuaikan diri dengan aspek tempat, waktu, dan materi (serta audiens-pen.).
  • Menyampaikan hal-hal yang utama, pokok, dan penting. QS Lukman: 17-18,
“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Metode Nasihat dalam IslamHal pertama yang disampaikan Lukman adalah akidah (pokok agama), lalu ibadah, lalu akhlak, dan akhirnya soal kemasyrakatan. Demikian pula yang dilakukan Nabi Muhammad di Makkah dan Madinah.

Terkait dengan poin keempat di atas, seorang pendidik harus menyiapkan bahan pelajaran sebelum pembelajaran, sehingga penjelasannya fokus—tidak melebar dan mengulang-ulang materi sebelumnya—dan siswa memperoleh sesuatu yang baru. Pendidik juga harus datang dan mengakhiri pelajaran tepat waktu. Kedisiplinan guru merupakan bagian proses pendidikan yang besar peranannya bagi perkembangan siswa. Guru yang sering terlambat masuk kelas atau mengakhiri pelajaran sebelum waktunya, tidak akan efektif dalam mengajar, karena siswa terlanjur memberikan stigma negatif baginya.

Untuk menutup pembahasan mengenai metode pendidikan dalam perspektif Islam ini, blog pembelajaran kutipkan uraian Abdullah Nashih 'Ulwan (2005: 533),
“Betapa indahnya seorang ayah dan ibu berkumpul bersama anak-anaknya di sore hari. Pertemuan mereka diisi dengan hikmah dan pengajaran. Kadang dengan menyampaikan kisah, kadang nasihat, lain waktu dengan pembacaan syair, lain kali dengan mendengarkan bacaan, kadang dengan perlombaan. Demikianlah, mereka memakai metode yang beragam, sehingga anak terbentuk jiwa dan akhlaknya."
Semoga dapat bermanfaat.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon