Saturday, June 7, 2014

Metode Perumpamaan (Amtsal) dalam Islam

Metode Perumpamaan (Amtsal) dalam Islam - Pada postingan kali ini blog pembelajaran akan share mengenai metode pendidikan dalam perspektif Islam. Hal ini sebagai bukti bahwa Islam pun memiliki teori-teori yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Dan salah satu metode pendidikan dalam Islam tersebut adalah metode perumpamaan atau dalam bahasa arab disebut sebagai "Amtsal". Berikut uraiannya.

Baca juga: Metode Pendidikan dalam Perspektif Islam


Definisi Metode Perumpamaan

Metode perumpamaan adalah metode pendidikan yang digunakan pendidik kepada anak didik dengan cara memajukan berbagai perumpamaan agar materinya mudah dipahami. Dalam QS Al-Zumar: 27 disebutkan: “Dan sungguh kami telah membuat bagi manusia di dalam Al-Quran ini setiap perumpamaan, supaya mereka mendapat pelajaran.
Metode Perumpamaan (Amtsal) dalam Islam
Al-Thabari menafsirkan ayat ini bahwa Allah Swt. telah memberikan perumpamaan bagi mereka orang-orang musyrik Quraisy dengan berbagai contoh dari umat-umat terdahulu agar mereka takut dan sebagai peringatan supaya mereka mendapat pelajaran, (1978: 136). Ayat ini merupakan dalil naqli bahwa Islam menggunakan perumpamaan sebagai metode dalam menyeru manusia pada kebenaran sehingga ia beriman dan beramal saleh.

Baca juga: Metode Targhib wa Tarhib dalam Islam


Manfaat Metode Perumpamaan

Al-Ajami menulis (2006: 139) beberapa manfaat metode perumpamaan:
  • Mengandung unsur-unsur yang menarik dan menyenangkan;
  • Memperjelas makna dengan mengaitkan sesuatu yang abstrak dengan sesuatu yang konkrit;
  • Mendorong sikap positif;
  • Meninggalkan sikap negatif.
Pengaruh metode ini dalam pendidikan Islam adalah anak didik mengambil pelajaran dan nasihat yang terkandung di dalam perumpamaan (lihat QS Al-Ankabut: 43; QS Al-Isra: 89). Di antara beberapa perumpamaan yang dimajukan Al-Quran adalah sebagai berikut:
  • Pertama, QS Al-Hasyr: 21, “Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini di atas gunung, niscaya engkau lihat ia tunduk dan terpecah karena takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu dibuat-Nya untuk manusia supaya mereka berfikir.”
Al-Zamakhsyari menafsirkan ayat ini bahwa diumpamakannya gunung yang seandainya diturunkan kepadanya Al-Quran, pastilah ia tunduk kepada Allah Swt, bertujuan untuk mencela manusia karena kekerasan hati mereka dan tidak ber-tadabbur (mengambil pelajaran) ketika membaca Al-Quran, (Jilid 4: 509).
  • Kedua, Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Telah membuat perumpamaan kalimat yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya  (menjulang)  ke  langit.  Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat, (QS Ibrahim: 24-25).
  • Ketiga, QS Al-Baqarah: 26, “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan Ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.”
  • Keempat, QS Al-Ankabut: 41, “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka Mengetahui.” Beberapa perumpamaan Al-Quran tersebut memudahkan pemahaman. Al-Quran memajukan perumpamaan positif dan negative, sehingga pembaca dan pendengar—dengan akal budi dan akal pikirannya—mampu memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk.
Seorang guru harus rajin membaca, berfikir, dan kreatif, agar bisa menemukan perumpamaan-perumpamaan saat akan mengajar, atau saat ia secara tiba-tiba harus menyampaikannya. Guru juga harus membiasakan diri menyampaikan perumpamaan dalam mengajar, agar mahir dan terbiasa. Guru menjelaskan perumpamaan tersebut, agar siswa yang belum paham dapat mengerti maknanya. Guru bisa memperoleh perumpamaan dari Al-Quran, Hadis, dan sumber lainnya. Kadang guru meminta siswa menjelaskan perumpamaan yang serupa dengan perumpamaan yang telah dimajukan guru untuk memancing kreatifitas dan daya fikir siswa.

Demikianlah uraian mengenai metode perumpamaan (Amtsal) dalam Islam. Semoga dapat bermanfaat dan bisa menambah wawasan kita tentang metode-metode pendidikan dalam Islam.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon